Segenap Pengurus Cabang PMII Ponorogo mengucapkan selamat atas terpilihnya Muhammad Junaidi sebagai ketua umum PKC PMII Jawa Timur masa khidmat 2014-2016
Home » , , , » Agama-agama Purba di Indonesia; Kapitayan

Agama-agama Purba di Indonesia; Kapitayan

Written By Admin on Rabu, 10 Juli 2013 | 04:14

Semar dan anak-anaknya dianggap sebagai penyebar ajaran Kapitayan
Ilustrasi gambar: Pesantren global
Semar dan anak-anaknya dianggap sebagai penyebar ajaran Kapitayan

Para sejarawan Belanda menafsir, bahwa jauh sebelum Hindu dan Buddha serta Islam masuk, di Nusantara terdapat agama kuno yang disebut Animisme-Dinamisme, yang sejatinya merupakan sebutan tidak tepat untuk agama Kapitayan, di mana sisa-sisa peninggalan agama yang berkembang di Nusantara yang disebut Kapitayan itu, dikenal dalam arkeologi sebagai peradaban Paleolithikum, messolithikum, neolithikum, dan megalithikum.

Secara definitif Kapitayan adalah sebuah kepercayaan yang memuja sesembahan utama yang disebut “Sang Hyang Taya”, di mana di dalam Bahasa Jawa Kuno, Sunda Kuno dan Melayu Kuno kata “Taya” bermakna Kosong, Tidak Ada, Hampa, Suwung, Awang-uwung yang inti mutlaknya adalah Sesuatu Yang Tidak Terdefinisi tetapi orang Jawa mendefinisikan Sang Hyang Taya dalam satu kalimat, yaitu “tan kena kinaya ngapa” yang bermakna tidak dapat diapa-apakan Keberadaan-Nya.

Batu peninggalan Kapitayan di gunung Padang
Foto: Pesantren Global
Sistem ajaran kapitayan yang begitu sederhana waktu itu, Sang Hyang Taya tidak bisa dikenali kecuali ketika muncul dalam bentuk Kekuatan Gaib bersifat Ilahiyyah yang disebut “TU”. “TU” adalah bahasa kuno yang artinya seutas benang atau seutas tali yang menjulur. “TU” dianggap sebagai keniscayaan dari Pribadi Sang Hyang Taya yang bersifat adikodrati. “TU” diketahui memiliki dua sifat utama, yaitu sifat baik dan sifat tidak baik. TU bersifat baik begitu terang disebut TUHAN dan TU tidak baik begitu gelap disebut HANTU tetapi baik Tuhan maupun Hantu bersifat gaib yang tidak bisa dikenal dan didekati langsung dengan indera. Untuk memuja-Nya dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati pancaindera dan alam pikiran manusia. Itu sebabnya, di dalam ajaran Kapitanyan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan gaib dari Sang Hyang Taya yang disebut TU itu ‘tersembunyi’ di dalam segala sesuatu yang memiliki sebutan TU. Para pengikut ajaran Kapitayan meyakini adanya kekuatan gaib pada wa-TU, TU-gu, TU-k, TU-ban, TU-rumbuk, TU-tuk, TU-nggul, TU-lang, TU-nggak, TU-buh, TU-nda, TU-ngkup. Dalam melakukan bhakti memuja Sang Hyang Taya, orang menyediakan sesaji berupa TU-mpeng, TU-mbal, TU-mbu, TU-kung, TU-d kepada Sang Hyang Taya melalui wa-Tu, TU-gu, TU-k, TU-ban, TU-rumbuk, TU-nggul, dan sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib.

Seorang hamba pemuja Sang Hyang Taya yang dianggap saleh akan dikaruniai kekuatan gaib yang bersifat positif (TU-ah) dan yang bersifat negatif (TU-lah). Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah itulah yang dianggap berhak untuk menjadi pemimpin masyarakat. Mereka itulah yang disebut ra-TU atau dha-TU. Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah, gerak-gerik Kehidupannya akan ditandai oleh PI, yakni kekuatan rahasia Ilahiyyah dari Sang Hyang Taya yang tersembunyi. Itu sebabnya, ra-TU atau dha-TU, menyebut diri dengan kata ganti diri: PI-nakahulun. Jika berbicara disebut PI-dato. Jika mendengar disebut PI-harsa. Jika mengajar pengetahuan disebut PI-wulang. Jika memberi petuah disebut PI-tutur. Jika memberi petunjuk disebut PI-tuduh. Jika menghukum disebut PI-dana. Jika memberi keteguhan disebut PI-andel. Jika menyediakan sesaji untuk arwah leluhur disebut PI-tapuja lazimnya berupa PI-nda (kue tepung), PI-nang, PI-tik, PI-ndodakakriya (nasi dan air), PI-sang. Jika memancarkan kekuatan disebut PI-deksa. Jika mereka meninggal dunia disebut PI-tara. Seorang ra-TU atau dha-TU, adalah pengejawantahan kekuatan gaib Sang Hyang Taya. Seorang ra-TU adalah citra Pribadi Sang Hyang Tunggal.

Dengan prasyarat-prasyarat sebagaimana terurai di muka, kedudukan ra-TU dan dha-TU tidak bersifat kepewarisan mutlak. Sebab seorang ra-TU yang dituntut keharusan fundamental memiliki TU-ah dan TU-lah, tidak bisa diwariskan secara otomatis pada anak keturunannya hanya berdasar unsur genetika. Seorang ra-TU harus berjuang keras untuk mampu menunjukkan keunggulan diri yang ditandai TU-ah dan TU-lah, dengan mula-mula menjadi penguasa wilayah kecil yang disebut wisaya. Penguasa wisaya diberi sebutan Raka. Seorang raka yang mampu menundukkan kekuasaan raka-raka yang lain, maka ia akan menduduki jabatan ra-TU. Dengan demikian, ra-TU adalah manusia yang benar-benar telah teruji kemampuannya, baik kemampuan memimpin dan mengatur strategi maupun kemampuan dalam memperoleh TU-ah dan TU-lah yang dimilikinya.
Tunda (punden berundak) di Gunung  Padang

Oleh: Kemuning Lindra P , Elisa Qorrata'ayun, Neng Rini -Universitas Brawijaya.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2014. PMII Ponorogo - All Rights Reserved
Converted by Cyber PMII